Nama Kawasan & Luas

Nama Kawasan : SM Cikepuh

Luas : 8.530,50 ha


Deskripsi Kawasan

Keadaan topografi Suaka Margasatwa Cikepuh disepanjang tepi pantai pada umumnya dataran dengan ketinggian 0 -250 m dpl dan berbentuk memanjang dari Sungai Cipanarikan sampai Sumur Kompa mengikuti garis pantai di pantai Tanjung Sodong parat terdapat formasi batuan diabat di daerah yang berbukit-bukit terdapat formasin cosin dimana didalamnya terdapat kelompok-kelompok kecil formasi Gabro. Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh masuk kedalam Pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

 


Potensi Obyek Wisata Alam

Potensi lainnya selain habitat satwa macan tutul jawa Suaka Margasatwa Cikepuh adalah adanya obyek wisata alam yang menarik karena kawasan ini terletak disepanjang Samudera Indonesia sehingga mempunyai banyak pantai yang menarik. Di pantai dapat di saksikan berbagai jenis rumput laut. Pada malam harinya di pantai Citireum dan pantai Cibulakan dapat menyaksikan penyu-penyu yang naik ke darat untuk bertelur dan dapat di dekati tanpa mengganggunya, berikut diantaranya: 

1. Pantai Ujungan
Pantai Ujungan kerap kali dikenal sebagai pantai ujung genteng. 
 
2. Pantai Citirem  
 
3. Pantai Cibulakan
Pantai yang merupakan tempat naik dan bertelurnya Penyu terutama jenis Penyu hijau (Cheloniamydas)
 
4. Pantai pulau Keris
 
5. Pantai ombak tujuh (spot untuk bermain selancar)
 
 
6. Batuan 
Selain dari berbagai jenis flora dan fauna yang beraneka ragam di suaka Margasatwa Cikepuh dapat juga ditemukan jenis-jenis batuan yang bentuknya sangat menarik, baik yang membentuk seperti lantai maupun membukit.
Batu Badak
 
Batu Batik


Potensi Flora Fauna

Potensi Flora dan Fauna yang ada di Kawasan SM Cikepuh antara lain :
 
Flora
Vegetasi di kawasan ini dapat dibagi ke dalam bentuk formasi-formasi seperti Formasi Litoral, Formasi Pescaprea, Formasi Baringtonia, Formasi Hutan Pantai/Dataran Rendah, Formasi Alluvial, Formasi Padang Rumput (alam dan buatan), Formasi Hutan Tanaman. Keadaan tipe vegetasi kawasan ini termasuk dalam tipe hutan hujan tropis dataran rendah yang terdiri dari berbagai formasi vegetasi. Dari formasi litoral dapat ditemukan berbagai macam ganggang laut seperti jenis Sargassum, Gelidium , Halimedadan lain-lain. Formasi Pescaprae tumbuhannya terdiri dari jenis ipomoea pescaprate, Ishaemum muticum, Spinifex littoralis, Canavalia sp dan lain-lain. Formasi baringtonia tumbuhannya terdiri dari jenis Nyamplung (Calophyllum inophyllum), katapang (Terminalia catappa), Pandan (Pandanus tectorius), Pandan bidur, Cycas rumphii, Sophora tomentosa dan lain-lain. Dari formasi hutan pantai/dataran rendah terdiri dari jenis pohon Kiara (Ficus sp), Laban (Vitex fubescens), Bungur (Langerstroemi sp), Kepuh (Sterculia foetida), Diosphyros sp dan lain-lain. Dari formasi daerah alluvial hanya ditumbuhi sejenis pal, yaitu Liguanan sp. Dan banyak dijumpai Awi Gereng (Bambusa spinosa). Dari formasi padang rumput terbagi dalam dua jenis, yaitu  padang rumput alam yang banayk ditumbuhi oleh jenis rumput Polonia ciliata, Aplenda mutica. Rottboella sp. Digitarua sp. Cyperus, dan padang rumput buatan banyak ditumbuhi jenis-jenis Lantana camara, Eupathorium odoratum, Triumfeta bartramia yang tumbuh secara liar karena padang rumput ini sudah tidak terurus lagi. Dari formasi hutan tanaman banyak di tumbuhi oleh pohon kelapa (Cocos nucifera) dan pohon kelapa sawit (Elaesis gynaensis) yang luasnya180 Ha. Karena daerah ini merupakan bekas daerah perkebunan.

Fauna

Dari berbagai jenis satwa liar yang dilindungi di Cikepuh, terdapat Penyu hijau (Chelonia mydas) yang merupakan salah satu jenis satwa liar yang sudah langka, sehingga perlu adanya usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup satwa tersebut. Oleh sebab itu di Suaka Margasatwa ini telah dilaksanakan usaha-usaha pembinaan populasi penyu, yaitu di daerah Pantai Citireum. Jenis-jenis satwa liar lainnya yang juga tidak kalah pentingnya untuk tetap dipertahankan kelestariannya adalah Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Kancil (tragulus javanicus), Babi hutan (Sus vitatus), Owa (Hylobates moloch), Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypitechus auratus), burung Kangkareng (Anthracoceros convenxus), burung Rangkong (Buceros rhinoceros), burung Udang (Alcendinidae sp), burung kuntul Karang (Egreta sacra), burung Bangau Putih Susu (Nycteria cinerea), burung Merak (Pavo muticus), burung Elang (Spilornis cheela bido), biawak (Varanus salvator) dan ular Beusi (Kenocropis cellator).


Aksesibilitas

Melalui jalur darat :
Sukabumi – Surade – Ciracap - Gunung Batu - Cijaringao dengan jarak sejauh kl 150 Km.
Sukabumi – Surade – Cikarang - Pengumbahan, selanjutnya menyusuri pantai dengan berjalan kaki sampai lokasi.
Dapat ditempuh dari Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat (Bandung) dengan jarak ± 270 km, dari Kantor Bidang Konservasi Wilayah I (Bogor) dengan jarak ± 170 km dan jarak dari Ibu Kota Kabupaten Sukabumi (Pelabuhanratu) ± 70 km.
 
Melalui jalur laut:
Pelabuhan Ratu – Cikadal - Cikepuh, dengan lama pelayaran kl 2,5 jam (apabila cuaca baik).


Sarana Prasarana Pengelola Yang Tersedia

Sarana dan Prasarana yang tersedia antara lain:
1. pos jaga Jaringan , pos jaga Pantai Citirem, pos jaga Pantai Cibulakan
2. shelter
3. Bak Penampungan tukik
4. tempat penetasan penyu

 
5. papan larang/himbauan


SK Penunjukan / Penetapan

Penunjukan: 
 
Penetapan:  
Keputusan Mentri Kehutanan No. SK.3685/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 8 Mei 2014 seluas 8.530,5 Ha.


Letak (Administratif Pemerintahan)

Suaka Margasatwa Cikepuh berada di Desa Gunung Batu dan Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

 


Letak Geografis

Utara : 07"11"00"

Selatan : 07"19'30"

Barat : 106'22"00"

Timur : 106"27"30"


Batas Wilayah

Sebelah utara berbatasan dengan kampung Sumur Kompa 
Sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Cipanarikan 
Sebelah barat berbatasan dengan  Samudera Indonesia
Sebelah timur berbatasan dengan Kampung Tegal Joho 


Penataan Blok

Keputusan Direktorat Jenderal KSDAE Nomor SK.342/KSDAE.SET/2015 tanggal 31 Desember 2015 dengan luas 8.070,10 ha.


Desain Tapak

Keputusan Direktur PJLHK nomor SK.9/PJLHK/PJLWA/KSDAE.3/1/2016 tanggal 19 Januari 2016


Permasalahan

Dengan telah ditetapkannya Geopak Ciletuh oleh UNESCO yang didalamnya terdapat SM Cikepuh dan CA Cibanteng maka minat kunjungan untuk berwisata baik peneliti, maupun masyarakat meningkat dari tahun ke tahun yang berdampak dengan adanya sampah dan kelestarian kehati SM Cikepuh. Disamping itu juga sarpras wisata terbatas (jasa wisata alam) belum menjadi prioritas pembangunan dan pengembangan wisata alam di SM Cikepuh.


Saran Pemanfaatan Wisata Alam / Upaya Tindak Lanjut

Prioritas pembangunan dan pengembangan wisata alam di SM Cikepuh baik sarpras fisik maupun kegiatan wisata alam terbatas (guide/pemanduan, transportasi ramah lingkungan dll) melalui pelibatan masyarakat/ pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan SM Cikepuh.


Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam

Kegiatan Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam yang dapat dilakukan di kawasan SM Cikepuh antara lain mengamati habitat satwa tukik, pendidikan konservasi, maupun kegiatan pelepasliaran tukik. 

 

 



Gallery